Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan orang di
sekelilingmu iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.
Apabila
engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada
maksud dibalik perbuatan baik yang kau lakukan itu. Tetapi tetaplah
berbuat baik.
Kebaikan yang kau lakukan hari ini mungkin besok akan dilupakan orang. Tetapi teruslah berbuat baik.
Apabila
engkau menemukan kedamaian dan kebahagian di dalam hati, orang lain
mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi tetaplah berbahagia.
Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi tetaplah berikan yang terbaik.
Apa
yang telah engkau bangun selama bertahun-tahun dapat dihancurkan oleh
orang lain dalam satu malam saja. Tetapi janganlah berhenti dan tetaplah
membangun!!! Gbu.
Kasih yang tulus tidak pernah menilai hasilnya, melainkan hanya memberi.
Satu
hal yang saya minta dari Anda: jangan pernah takut untuk memberi,
tetapi jangan memberi dari kelebihan Anda. Berikan dimana hal itu sukar
bagi Anda.
Hidup adalah kesempatan, manfaatkanlah.
Hidup adalah keindahan, kagumilah.
Hidup adalah kebahagiaan, nikmatilah.
Hidup adalah mimpi, sadarlah.
Hidup adalah tantangan, hadapilah.
Hidup adalah kewajiban, selesaikanlah.
Hidup adalah permainan, mainkanlah.
Hidup adalah sebuah janji, penuhilah.
Hidup adalah penderitaan, atasilah.
Hidup adalah kidung, nyanyikanlah.
Hidup adalah perjuangan, terimalah.
Hidup adalah tragedi, berjuanglah.
Hidup adalah petualangan, beranilah.
Hidup adalah keberuntungan, lakukanlah.
Hidup terlalu berharga, jangan dihancurkan.
Hidup adalah hidup, berjuanglah untuknya!
Orang sering keterlaluan, tidak logis dan hanya mementingkan diri. Bagaimanapun, maafkanlan mereka.
Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih. Bagaimanapun, berbaik hatilah.
Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati. Bagaimanapun, jadilah sukses.
Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu. Bagaimanapun jujur dan terbukalah.
Engkau lihat, akhirnya ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu. Bagaimanapun ini bukan urusan antara engkau dan mereka.
Rabu, 17 Agustus 2011
Jumat, 10 Juni 2011
Hutannya si Monyet
Seekor anak monyet bersiap-siap hendak melakukan perjalanan jauh. Ia
merasa sudah bosan dengan hutan tempat hidupnya sekarang. Ia mendengar
bahwa di bagian lain dunia ini ada tempat yang disebut “hutan” di mana
ia berpikir akan mendapatkan tempat yang lebih “baik”. “Aku akan mencari
kehidupan yang lebih baik!” katanya. Orangtua si Monyet, meskipun
bersedih, melepaskan kepergiannya. “Biarlah ia belajar untuk
kehidupannya sendiri,” kata sang Ayah kepada sang Ibu dengan bijak.
Maka pergilah si Anak Monyet itu mencari “hutan” yang ia gambarkan sebagai tempat hidup kau Monyet yang lebih baik. Sementara kedua orangtuanya tetap tinggal di hutan itu. Waktu terus berlalu, sampai suatu ketika, si Anak Monyet itu secara mengejutkan kembali ke orangtuanya. Tentu kedatangan anak semata wayang itu disambut gembira orangtuanya.
Sambil berpelukan, si Anak Monyet berkata, “Ayah, Ibu, aku tidak menemukan hutan seperti yang aku angan-angankan. Semua binatang yang aku temui selalu keheranan setiap aku menceritakan bahwa aku akan bergi ke sebuah tempat yang lebih baik bagi semua binatang yang bernama hutan.” “Malah, mereka mentertawakanku.” sambungnya sedih. Sang Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengarkan si Anak Monyet itu. “Sampai aku bertemu dengan Gajah yang bijaksana,” lanjutnya, “Ia mengatakan bahwa sebenarnya apa yang aku cari dan sebut sebagai hutan itu adalah hutan yang kita tinggali ini!. Kamu sudah mendapatkan dan tinggal di m hutan itu!” Benar, anakku. Kadang-kadang kita memang berpikir tentang hal-hal yang jauh, padahal apa yang dimaksud itu sebenarnya sudah ada di depan mata.”
Kita semua adalah si Anak Monyet itu. Hal-hal sederhana, hal-hal ada di sekitar kita tidak kita perhatikan. Justru kita melihat hal yang “jauh-jauh” yang pada dasarnya sudah di depan mata. Kita gelisah dengan karir pekerjaan, kita gelisah dengan sekolah anak-anak, kita gelisah dengan segala rencana kehidupan kita. Padahal, yang pekerjaan kita sekarang adalah bagian dari karir kita. Padahal, anak-anak kita bersekolah sekarang adalah bagian dari proses pendidikan mereka dan hidup yang kita jalani adalah bagian dari rangkaian kehidupan kita ke masa yang akan datang.
Sumber : Chicken soup for the soul
Maka pergilah si Anak Monyet itu mencari “hutan” yang ia gambarkan sebagai tempat hidup kau Monyet yang lebih baik. Sementara kedua orangtuanya tetap tinggal di hutan itu. Waktu terus berlalu, sampai suatu ketika, si Anak Monyet itu secara mengejutkan kembali ke orangtuanya. Tentu kedatangan anak semata wayang itu disambut gembira orangtuanya.
Sambil berpelukan, si Anak Monyet berkata, “Ayah, Ibu, aku tidak menemukan hutan seperti yang aku angan-angankan. Semua binatang yang aku temui selalu keheranan setiap aku menceritakan bahwa aku akan bergi ke sebuah tempat yang lebih baik bagi semua binatang yang bernama hutan.” “Malah, mereka mentertawakanku.” sambungnya sedih. Sang Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengarkan si Anak Monyet itu. “Sampai aku bertemu dengan Gajah yang bijaksana,” lanjutnya, “Ia mengatakan bahwa sebenarnya apa yang aku cari dan sebut sebagai hutan itu adalah hutan yang kita tinggali ini!. Kamu sudah mendapatkan dan tinggal di m hutan itu!” Benar, anakku. Kadang-kadang kita memang berpikir tentang hal-hal yang jauh, padahal apa yang dimaksud itu sebenarnya sudah ada di depan mata.”
Kita semua adalah si Anak Monyet itu. Hal-hal sederhana, hal-hal ada di sekitar kita tidak kita perhatikan. Justru kita melihat hal yang “jauh-jauh” yang pada dasarnya sudah di depan mata. Kita gelisah dengan karir pekerjaan, kita gelisah dengan sekolah anak-anak, kita gelisah dengan segala rencana kehidupan kita. Padahal, yang pekerjaan kita sekarang adalah bagian dari karir kita. Padahal, anak-anak kita bersekolah sekarang adalah bagian dari proses pendidikan mereka dan hidup yang kita jalani adalah bagian dari rangkaian kehidupan kita ke masa yang akan datang.
Sumber : Chicken soup for the soul
Langganan:
Postingan (Atom)